Minggu, 28 Agustus 2016

Hard Candy


Tahun rilis: 2005
Sutradara: David Slade
Bintang: Ellen Page, Patrick Wilson
My rate: 3.5/5

Sudah lama sekali sejak saya menonton Hard Candy untuk pertama kalinya, tapi beberapa film memang harus 'diendapkan' dulu sebelum ditonton lagi, untuk mengungkap keindahan tersembunyinya. Di tengah-tengah maraknya berita tentang pedofilia dan kekerasan terhadap anak, menonton film ini seperti fantasi yang terpuaskan soal apa yang bisa kita lakukan seandainya kita jadi karakter Ellen Page dalam thriller bertema balas dendam ini. 

Hard Candy dibuka dengan obrolan chatting, dimana 'Lensman319' mengajak 'Thonggrrrl14' untuk bertemu. Kita kemudian menemui Hayley (Ellen Page) dan Jeff (Patrick Wilson), bertemu untuk pertama kalinya di kafe setelah sekian lama hanya mengobrol di ruang chatting. Jeff yang seorang fotografer dengan charming berhasil memikat Hayley yang masih 14 tahun agar mau diajak ke rumahnya untuk sesi pemotretan, dimana Jeff memperlihatkan studio foto miliknya serta koleksi foto-foto gadis remaja seumuran Hayley.

Hayley kemudian membuat minuman untuk Jeff, dan minta supaya ia juga difoto seperti gadis-gadis tersebut. Akan tetapi, Hayley ternyata sudah mencampurkan obat tidur ke minuman Jeff. Begitu Jeff sadar, ia terikat di kursi, dan Hayley berkata bahwa ia sudah lama melacak Jeff karena menurutnya Jeff adalah pedofil yang suka mengambil foto cabul anak-anak dan memerkosa mereka. Ia terutama menuduh Jeff terlibat dalam peristiwa hilangnya seorang gadis remaja, Donna Mauer, yang menurut Hayley diculik, diperkosa dan dibunuh oleh Jeff. Akan tetapi, Jeff menyangkal tuduhan Hayley, terutama karena Hayley tidak punya bukti. Perang psikologis antar keduanya pun tak terhindarkan, terutama ketika Jeff berusaha keras menyangkal tuduhan Hayley, sementara Hayley bertekad tak akan membiarkan Jeff lolos, walau berarti ia harus melakukan tindakan ekstrem.

Dalam pembuatan Hard Candy, sutradara David Slade dan produser David W. Higgins terinspirasi dari kisah nyata tentang gadis-gadis remaja Jepang yang menerima order kencan dengan pria-pria hidung belang, namun kemudian berkomplot untuk merampok pria-pria ini. Mereka pun memikirkan sebuah ide: "kalau pedofil sering menunjukkan 'topeng' untuk menutupi jati diri mereka dan memikat anak-anak, bagaimana kalau sebaliknya? Calon korban pedofil yang ternyata tak seperti apa yang terlihat?"

Banyak elemen menarik yang digunakan sebagai elemen narasi dalam film ini. Misalnya, ketika Hayley dan Jeff bertemu di kafe, kamera berpindah sebentar ke poster gadis remaja yang dinyatakan hilang; singkat, tapi cukup memberi petunjuk pada penonton. Hayley juga digambarkan mengenakan jaket bertudung merah, yang memberi kesan mirip sosok Little Red Riding Hood, yang harus diakui cocok dengan tema film ini (uniknya, Slade dan Higgins mulanya benar-benar tidak sadar tentang hal ini, dan pemilihan jaket merah itu hanya kebetulan). Malah, distributor luar Amerikalah yang langsung menyadari hal ini; Jepang, misalnya, memasarkan film ini dengan tagline: "Si Tudung Merah Menjebak Si Serigala." Permainan warna dalam film ini juga menarik; warna-warna dominan kuning dan merah yang menyolok berubah menjadi suram ketika Hayley digambarkan marah atau emosi.

Yang paling menarik perhatian tentu saja akting Ellen Page sebagai Hayley Stark. Di awal-awal kemunculannya, Hayley adalah tipikal remaja yang serba kenes, genit sekaligus malu-malu, dan mudah terpikat oleh pesona Jeff. Akan tetapi, ia dengan cepat berubah menjadi penuh perhitungan dan kejam saat diperlukan. Uniknya, sifat-sifat remaja Hayley tidak hilang bahkan ketika ia menginterogasi Jeff atau melakukan hal-hal ekstrem terhadapnya; ia masih nampak polos dan playful, dan di saat-saat tertentu bahkan nampak gugup dan memperlihatkan usianya dengan sangat jelas, terutama ketika ia tak kunjung mendapatkan bukti yang diinginkannya, atau ketika ia harus menemui tamu yang datang secara tak terduga ke rumah Jeff. Ia bahkan beberapa kali 'bermain peran' saat menginterogasi Jeff dengan menggonta-ganti baju beberapa kali layaknya berganti kostum.

Patrick Wilson sebagai Jeff juga bermain apik sebagai pedofil kawakan yang memperlihatkan pada kita kenyataan menyakitkan: pedofil tidak selalu orang mencurigakan bertampang penjahat. Mereka bisa jadi rupawan, memikat, dan memesona, seperti prince charming; sangat sabar dan bahkan bersedia berlagak mencintai calon korbannya, sampai mereka menebar jaring. Di sepanjang adegan pertemuan Hayley dan Jeff di kafe, Jeff yang usianya sudah 30-an itu bahkan terlihat mampu mengimbangi obrolan ala remaja Hayley yang baru 14 tahun, layaknya pemburu yang melakukan survey terhadap calon mangsanya agar lebih mudah menangkapnya. Jeff juga digambarkan memiliki topeng terhormat: punya karir sukses, rumah mewah, dan kekasih cantik, menutupi identitas sebenarnya sebagi pedofil. Dalam perang psikologisnya dengan Hayley, ia juga berusaha keras menembus pertahanan remaja Hayley dengan kata-kata manis, bujukan, bahkan ancaman.

Akan tetapi, jangan mengharapkan sebuah thriller yang jor-joran dan penuh darah atau adegan intens. Film ini bercerita dengan cara yang subtil, dan Anda akan 'dipaksa' mengikuti narasi lewat dialog antar dua karakter saja: Hayley dan Jeff (memang ada karakter lain, tapi porsinya sama sekali tidak signifikan). Film ini juga berbiaya rendah: hanya satu juta Dolar (konon ini disengaja karena topiknya yang kontroversial; kalau biayanya tinggi, sineas akan terpaksa membuat perubahan pada skenarionya). Akan tetapi, akting Ellen Page sebagai Hayley yang gabungan antara polos, manis, cerdas, penuh perhitungan dan dingin membuat film ini patut diperhitungkan.

Film ini dengan cemerlang menunjukkan akting debut Ellen Page sebagai aktris muda berbakat sebelum ia bermain di film yang lebih mainstream seperti Juno, serta karakternya sebagai gadis remaja polos bertudung merah yang membuat si serigala terkejut saat ia membalik keadaan dan dengan apik menunjukkan wajah sebenarnya di balik topeng polosnya, sama seperti pedofil yang menunjukkan wajah di balik topengnya setelah berhasil menjerat mangsa.