Minggu, 28 Agustus 2016

Mind Your Language


Tahun rilis: 1977
Sutradara: Sturt Allen
Bintang: Barry Evans, Zara Nutley, Albert Moses, Dino Shafeek, Pik-Sen Lim, Robert Lee, Ricardo Montez, Tommy Godfrey
My rate: 4/5

Zaman sekarang, sineas, studio film atau stasiun TV yang menggarap film dan serial dengan karakter serba stereotip (contoh: karakter kulit hitam pasti anggota geng atau penjahat, karakter Timur Tengah pasti teroris, karakter gay pasti genit atau punya kelainan mental, karakter Rusia pasti "musuh Amerika") akan langsung dikomentari dengan pedas, atau minimal dikritik dan dijadikan bahan lelucon oleh berbagai pihak. Saya sendiri sepenuhnya mendukung sineas atau studio film yang berani menggarap film dengan karakter segar, unik dan believable, tanpa mengekor stereotip populer. Jadi, diam-diam saya agak merasa bersalah karena menyukai, bahkan bisa tertawa terpingkal-pingkal, ketika menonton serial komedi situasi Inggris Mind Your Language (1977) yang justru memadatkan semua stereotip ras yang bisa Anda pikirkan dalam setiap episodenya. 


Mind Your Language berkisah tentang seorang guru bahasa Inggris bernama Jeremy Brown (Barry Evans) yang mengajar di sebuah pusat pendidikan keterampilan di London. Mr. Brown mengajar di sebuah kelas yang berisi murid-murid imigran dari berbagai latar belakang negara, bahasa, usia dan pekerjaan. Ada Taro, karyawan perusahaan elektronik asal Jepang. Ada Anna dan Danielle, pembantu rumah tangga asal Jerman dan Prancis. Ada Giovanni, koki asal Italia. Ada Juan Cervantes, bartender asal Spanyol. Ada Max, pelaut asal Yunani. Ada Jamila, ibu rumah tangga Urdu. Ada Su Lee, sekretaris asal Cina. Ada Ranjit, karyawan stasiun kereta api bawah tanah asal India, dan ada Ali, salesman asal Pakistan. Kelucuan serial ini bersumber dari berbagai keruwetan, keriuhan dan kesalahpahaman ketika Mr. Brown berusaha mengajar bahasa Inggris komunikasi untuk murid-murid yang serba gado-gado ini, terutama karena ada Dolores Courtney (Zara Nutley), kepala sekolah yang judes. Kelas Mr. Brown juga kedatangan murid baru di serial musim kedua: Ingrid dari Swedia, dan Zoltan dari Hungaria.

Yang paling menarik perhatian dari serial ini adalah fakta bahwa semua murid Mr. Brown digambarkan sebagai stereotip dari kebangsaan masing-masing, yang dibuat sedemikian rupa sehingga benar-benar nampak menonjol. Misalnya, Danielle yang wanita Prancis selalu sangat genit dan menggoda. Taro selalu berdiri dan membungkuk sebelum menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Mr. Brown. Su Lee digambarkan membawa-bawa Buku Merah Mao kemana-mana dan selalu mengutip Mao Zedong kapanpun dia bisa (termasuk saat mendapat PR mengarang dari Mr. Brown). Max dan Giovanni adalah stereotip pria-pria Mediterania; kasar, suka menyelesaikan masalah secara fisik (baca: menantang berantem), dan suka menggoda gadis-gadis. Ranjit yang seorang Sikh dan Ali yang Muslim sering digambarkan bertengkar karena hal-hal sepele. Anna yang orang Jerman digambarkan jarang tersenyum, tidak feminin, bicara tegas dan pendek-pendek seperti sersan, dan tak ragu-ragu menabok pria kalau mereka menggodanya. Yah, kalau Anda familiar dengan berbagai stereotip ras macam ini di berbagai media, Anda akan tahu maksud saya.

Sebagai orang yang familiar dengan pentingnya isu political correctness di media, menonton serial ini seperti menemukan guilty pleasure; walaupun stereotip ras menjadi pusat kelucuan serial ini, saya sangat menikmatinya dan anehnya tidak merasa kikuk atau janggal. Sangat berbeda dengan ketika menonton Citizen Khan, misalnya, yang merupakan serial komedi BBC yang memparodikan kehidupan keluarga Pakistan di Birmingham, Inggris, dimana stereotip karakter mereka benar-benar ditonjolkan secara kasar dengan cara yang membuat saya kurang nyaman, walaupun serial ini anehnya juga diciptakan dan digarap oleh orang Pakistan (tapi, adegan dari musim pertama dimana Mr. Khan digambarkan menyanyi dengan suara cempreng di kantor masjid tanpa menyadari kalau mikrofonnya masih tersambung dengan speaker di menara masjid, atau ketika dia dan asistennya mengadakan kompetisi ala X-Factor untuk menemukan muazin baru, benar-benar bisa membuat saya tertawa ngakak). Berbeda dengan Citizen Khan yang mengundang kontroversi dan debat panas, Mind Your Language sangat sukses dan bahkan dibuat beragam versi adaptasinya di berbagai negara, seperti versi Amerika, Nigeria, India, Aljazair, Pakistan, Sri Lanka dan Kenya. Mind Your Language juga terkenal di negara-negara yang menjadi tempat asal para pemainnya, walaupun para aktor dan aktris ini memotret stereotip kebangsaan mereka.

Jadi, apa yang membuat saya menikmati serial ini?

Pertama, ada alasan yang sifatnya pribadi; fakta bahwa ini adalah serial yang berfokus pada perjuangan seorang guru bahasa Inggris dalam mengajarkan bahasa sesuai fungsinya, yaitu untuk berkomunikasi. Gaya mengajar Mr. Brown digambarkan revolusioner pada jamannya. Saat banyak buku teks berfokus pada pentingnya grammar tanpa menginjak ranah praktis, Mr. Brown justru membawa sekantong barang belanjaan ke kelas untuk mengajar kosakata, mengadakan role-playing di kelas, dan menyuruh murid-muridnya jalan-jalan berpasangan ke tempat-tempat umum untuk melatih komunikasi mereka di lingkungan sebenarnya. Isu ini bahkan sempat disenggol di salah satu episode musim pertama, dimana Mr. Brown memprotes di depan kepala sekolah dan inspektur dari dewan pendidikan setempat bahwa buku-buku teks yang disediakan dewan pendidikan terlalu banyak berfokus pada teori, tapi bukan komunikasi yang sebenarnya. Inilah rasa frustrasi yang sama yang selalu saya hadapi saat berhadapan dengan orang-orang yang belajar bahasa Inggris untuk berkomunikasi, tapi sudah terlanjur 'trauma' atau berpikiran bahwa bahasa Inggris membosankan, karena isinya hanya belajar soal grammar tanpa aplikasi praktis.

Kedua, serial ini adalah contoh tradisi humor sitkom Inggris yang menyindir serta mengobrak-abrik aspek sosial dan kultur, dimana orang-orang Inggris yang serba sopan dan kaku dibuat kelabakan ketika berhadapan dengan sesuatu yang bagi mereka asing. Tradisi komedi macam ini juga jelas terlihat dalam Mr. Bean, dimana karakter Bean adalah kebalikan dari segala sesuatu yang terkait dengan kesopanan dan kekakuan orang Inggris, dan menohok berbagai aspek tata krama sosial ketat nan kaku yang kerap diasosiasikan sebagai 'produk negara beradab.' Seperti kata penulis dan jurnalis Inggris George Orwell ketika ia menjadi polisi kolonial di Burma, setiap orang kulit putih yang ada di Burma pada dasarnya tinggal menunggu waktu untuk menjadi bahan tertawaan penduduk setempat; apa yang bagi orang-orang Inggris dianggap beradab ternyata merupakan bahan tertawaan bagi bangsa lain dengan kultur berbeda. Mr. Brown dan Ms. Courtney pun digambarkan sebagai orang Inggris macam itu; mereka kerap memandang perilaku murid-murid asing ini dengan gaya sok ngebos dan beradab, namun ketika berinteraksi dengan mereka, justru keduanya yang kerap dibuat kelabakan.

Ketiga, walaupun para karakter merupakan stereotip kasar, pada akhirnya hal ini justru membuat kita menyadari apa yang mungkin tidak disadari Mr. Brown. Walau para muridnya sama-sama berada di dalam kelas untuk belajar bahasa Inggris, mengajar bahasa untuk orang-orang dengan latar belakang budaya berbeda ternyata lebih dari sekedar mengadakan tes, mengadakan role-playing atau mengajar kosakata dengan alat peraga. Mr. Brown digambarkan sering kelabakan ketika ia tanpa sengaja membuat murid-muridnya tersinggung atau kebingungan, karena ia kerap berinteraksi dengan memaksakan pola pikir dan kultur ala Inggris (yang dalam hal ini berarti kultur Inggris kulit putih). Mr. Brown menuntut murid-muridnya untuk meraih standar Inggris dalam pendidikan mereka, namun upaya itu ternyata tidak mudah, dan bahkan membuat guru bahasa Inggris sebelumnya "menjadi gila, melompat dari jendela, berdiri telanjang bulat di atap dan menyanyi 'I've got a lovely bunch of coconuts.'"

Harus diingat pula bahwa serial ini tayang pada tahun 1977; tahun 1950-an hingga 1989 merupakan masa-masa dimana Inggris mulai kehilangan pamor internasionalnya karena dekolonisasi, yaitu ketika wilayah-wilayah jajahannya satu-persatu mulai merdeka. Pada masa-masa ini, terjadi reformasi besar-besaran dalam berbagai aspek, ditambah dengan terjadinya arus imigrasi yang besar ke Inggris, isu xenophobia dan rasisme yang kental, serta fakta bahwa banyak generasi baru yang mulai mempertanyakan makna sebenarnya dari "menjadi orang Inggris" di jaman modern, ketika Inggris akhirnya menjadi negara multikultur. Mind Your Language bisalah dianggap sebagai sebuah satir yang memotret benturan kultur, paham xenophobia dan rasisme, serta konsep "beradab" dan "bertatakrama" yang bisa jadi bervariasi antar kultur.

Pada akhirnya, serial ini juga membuat saya senang karena, lepas dari beragam benturan kultur dan paham serta kekacauan yang terjadi di kelas Mr. Brown, para karakternya digambarkan mulai semakin dekat satu sama lain, menjadi semakin akrab dan bersahabat walau sering berdebat, dan saling membantu ketika ada yang mengalami kesulitan; misalnya ketika Danielle diganggu oleh salah satu guru di lembaga pendidikan tersebut, ketika Jamila dituduh mengutil, ketika Mr. Brown terancam dipecat, ketika Ranjit hendak dijodohkan dengan wanita yang tak disukainya, ketika Ms. Courtney hendak ditipu oleh mantan pacarnya, atau ketika Juan membawa teman yang mencari suaka politik di Inggris. Walau kontroversi stereotip pada akhirnya membuat serial ini tidak diteruskan setelah musim ketiga, saya tetap menikmatinya dan merasa bahwa inilah salah satu sitkom Inggris paling berkesan yang pernah saya tonton.

Seperti kata penulis Inggris Jeremy Paxman: "when the end of empire happened and when the British worldview was turned upside down, the easiest British thing to do was to laugh at it." Humor dalam Mind Your Language adalah cara Inggris memandang kebingungan akan identitas dirinya di tengah-tengah kegalauan masa pasca-kolonialisme. Humor yang terbaik adalah humor yang menertawakan diri sendiri, dan mungkin itulah yang saya dan para fans serial ini pahami dan akhirnya membuat kami tertawa tanpa beban.