Sabtu, 27 Agustus 2016

Soldier's Girl


Tahun rilis: 2003
Sutradara: Frank Pierson
Bintang: Lee Pace, Troy Garity
My rate: 3.5/5

Bagi Anda yang baru saja menonton film The Hobbit bagian terakhir dan kesengsem dengan si raja Elf Thranduil yang diperankan Lee Pace, sebaiknya juga menonton film pertamanya, Soldier's Girl, film yang terinspirasi dari kisah nyata Calpernia Addams, yang tentunya tak seheboh The Hobbit (karena dibuat untuk film televisi), namun menunjukkan performa akting yang luar biasa dari Lee. Dan jika Anda membaca judul artikel ini, coba tebak siapa yang jadi sang penghibur transgendernya?

Dan ya, setelah cekikikan saya reda setelah melihat Lee menari dengan kostum super seksi di atas panggung (karena sebelumnya sudah membayangkan dirinya sebagai raja Elf berbaju perang lengkap dengan tatapan mata senggol-bacoknya itu), saya makin lama makin terhanyut dengan alur film drama yang jauh dari jor-joran ini, sebelum akhirnya kepingin ikut menangis menggerung-gerung bersama karakter Lee menjelang akhir film. 


Dalam film ini, Calpernia (Lee Pace) dikisahkan bertemu dengan kopral Barry Winchell (Troy Garity) di sebuah kelab malam di Nashville, Tennessee. Setelah menyuguhkan tarian dan akhirnya memisahkan perkelahian antara Barry dan teman satu baraknya yang mabuk, Calpernia mengundang Barry ke ruang ganti bajunya, dan di sanalah mereka saling menunjukkan ketertarikan serta akhirnya bertukar nomor telepon. Mereka pun akhirnya saling tertarik dan mulai saling mengunjungi serta kencan secara serius, yang sempat mengundang kecurigaan teman sekamar Barry, Justin (Shawn Hatosy). Apalagi, Justin sejak awal juga dikisahkan sudah menunjukkan tabiat yang meremehkan kaum transgender dan mereka yang punya orientasi seks non-heteroseksual.

Walau sempat mengalami pasang surut hubungan, Barry dan Calpernia akhirnya memutuskan untuk meneruskan hubungan mereka secara serius. Mereka pun saling jujur mengenai rahasia masing-masing, misalnya Barry yang sempat bingung akan orientasi seksualnya, dan Calpernia yang ternyata dulunya pernah bergabung dengan Angkatan Laut. Barry bahkan mendorong Calpernia untuk berani mengikuti kontes Tennessee Entertainer of the Year, yang selalu menjadi impian Calpernia. Sayangnya, hubungan mereka mengundang kecurigaan Justin, yang kemudian menyebar rumor di barak dan menyebabkan Barry di-bully dan didiskriminasikan.

Puncaknya adalah ketika Calpernia akhirnya berangkat untuk mengikuti kontes Tennessee Entertainer of the Year, sendirian tanpa ditemani Barry, dimana hal ini menjadi pembuka untuk sebuah kejadian tragis yang akan mengubah drastis hidup mereka berdua.

Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata Calpernia Addams, seorang penulis, aktris panggung dan pembela hak-hak kaum transgender. Kisah cintanya dengan Barry Winchell terjadi pada tahun 1999, dimana semua yang digambarkan di film juga benar-benar terjadi dalam kehidupannya. Calpernia yang asli adalah seorang mantan Hospital Corpsman di Angkatan Laut, sebelum menjadi pemusik, pemain drama dan penari untuk pertunjukan drag queen di kelab malam di Kentucky. Ia juga merupakan pendiri Deep Stealth Productions, rumah produksi di Hollywood yang dibentuk Calpernia bersama Andrea James yang berfokus pada film, dokumenter dan media lainnya yang menyebarkan kesadaran akan hak-hak kaum transgender.

Yang mengagumkan, film besutan Frank Pierson ini ternyata merupakan film pertama Lee setelah lulus dari akademi Julliard, dan dia sempat diomeli oleh sang ayah karena memilih peran pertama yang bisa dibilang kontroversial. Akan tetapi, Lee ternyata tertarik dengan naskah tersebut dan memutuskan untuk "go for it." Dia pun banyak membaca dan menonton video dokumenter tentang kaum transgender, melatih gesture dan bahasa tubuh, dan hasilnya tidak sia-sia. Aktingnya di film ini dari awal sampai akhir mempesona; ia menjadi penghibur kelab malam yang seksi dan percaya diri dengan gaya menggoda yang bikin nggak kuat, namun ketika semua dandanannya dilepas, karakternya kembali menjadi bak gadis muda biasa yang takut-takut senang ketika memulai hubungan pacaran yang serius.

Lee pun sempat menjabarkan kesulitannya soal berusaha menghayati perannya sebagai seorang transgender ke Pearson, dan si sutradara menjawab begini:

"Play the woman and the story will be clear. All you have to do is play the integrity of it, falling in love with someone else, getting away from her past. All you have to do is focus on is falling in love. After that, the make-up people will do their job.”

Kalau saya harus menggambarkan Calpernia-nya Lee di film ini, karakternya adalah orang yang berusaha bersikap berani, padahal sebenarnya hanya sangat pandai menyembunyikan ketakutan. Hal itu terlihat jelas di film ini; mulanya, saya melihat Calpernia yang sangat percaya diri dan berani di panggung, namun menjadi serba ragu dan gugup saat Barry menunjukkan gelagat ingin serius dengannya. Ia bahkan dengan tegas berkata pada Barry bahwa dirinya adalah "segalanya yang orang lain tak akan menganggap normal," namun perlahan-lahan ia pun berani membuka diri (yang tentu saja membuat akhir film semakin bikin saya serasa habis menggosok mata pakai bawang bombay.

Troy Garity, yang aslinya adalah putra Jane Fonda, juga tampil ciamik di sini. Ia menjadi karakter tipikal prajurit sejati; berprestasi, kalem, dan gayanya sangat gentleman (ia bahkan memanggil Calpernia dengan sebutan "ma'm" saat mereka pertama bertemu, walau sudah tahu kalau ia seorang transgender), namun ketika merasa tertarik padanya, ia menunjukkan gaya merayu yang kalem namun percaya diri. Akan tetapi, topeng prajurit sejati ini sempat pecah di tengah-tengah film, ketika ia dan Calpernia bertengkar, dimana ia menunjukkan sisi rapuhnya. Barry juga dikisahkan harus susah-payah menahan diskriminasi dari teman-temannya, sementara atasannya juga tidak melakukan apa-apa, karena saat itu, militer Amerika masih menganggap gay dan lesbian sebagai kaum yang tak pantas mengabdi pada negara sebagai anggota militer (ada kebijakan Don't Ask Don't Tell, yaitu walaupun militer Amerika tidak mengijinkan orang yang mengaku gay, lesbian atau transgender masuk dinas militer, seorang prajurit yang diam-diam memiliki preferensi itu harus menyimpannya rapat-rapat, dan rekan lain yang tahu dilarang keras membocorkannya). Akan tetapi, ia tetap berusaha kuat demi hubungan mereka dan bahkan mendorong Calpernia mengejar impiannya.

Film ini meraih banyak nominasi dan penghargaan, di antaranya:
  • Nominasi Emmy 2003 untuk Outstanding Directing for a Miniseries, Movie or a Dramatic Special, serta Outstanding Makeup for a Miniseries, Movie or a Special
  • Gotham Awards 2003 untuk Breakthrough Award (untuk Lee Pace).
  • Nominasi Golden Globe 2004 untuk beberapa kategori, yaitu Best Mini-Series or Motion Picture made for Television, serta Best Performance by an Actor in a Mini-Series or a Motion Picture Made for Television (untuk Troy Garity) dan Best Performance by an Actor in a Supporting Role in a Series, Mini-Series or Motion Picture Made for Television (untuk Lee Pace).
  • Peabody Award 2004.
  • Nominasi Independent Spirit Awards 2004 untuk Lee Pace dan Troy Garity.
  • Nominasi Satellite Awards 2004 untuk Lee Pace dan Troy Garity.

Di dunia nyata, kisah Calpernia Addams ini juga ternyata mengundang tinjauan ulang terhadap kebijakan Don't Ask Don't Tell, dan Calpernia yang asli pun bergabung bersama ibu Barry, Patricia, untuk melakukan kampanye terhadap hak-hak kaum transgender, gay dan lesbian.

Overall, saya cukup puas dengan film ini. Interaksi antar karakter Lee dan Troy sangat alami, dan walau tidak sedramatis sinetron kita, bahkan dari dialog-dialog awal yang kesannya kasual pun saya bisa menangkap keraguan dan ketakutan tersembunyi kedua karakternya, saat menyadari bahwa mereka sama-sama berniat membawa hubungan ke ranah yang lebih jauh. Akan tetapi, mereka kemudian berusaha melawan ketakutan itu dengan cara masing-masing, sambil saling menguatkan dan mendukung. Dan tentu saja, ini adalah penyegaran di tengah berbagai film Hollywood dan bahkan film kita yang cenderung memasukkan karakter transgender sebagai bahan tertawaan atau bahan olokan (jangan sampai saya mulai dengan White Chicks, ugggh).

Saya pun mendapat kejutan menyenangkan ketika melihat Lee dalam karakter yang tidak biasa namun memukau ini, terutama karena saya sama seperti banyak orang lain; baru tahu siapa itu Lee Pace setelah nonton Pushing Daisies dan The Hobbit. Dan tentu saja, tidak seperti karakter transgender yang diolok-olok di berbagai film, karakter Lee adalah karakter yang jauh itu: cantik, memukau, kuat dan penuh cinta.