Minggu, 28 Agustus 2016

White: The Melody of the Curse


Tahun rilis: 2011
Sutradara: Kim Gok, Kim Sun
Bintang: Ham Eun-Joong, Hwang Woo-seul-hye, May Doni Kim
My rate: 3/5

Saya bukan pendengar setia K-Pop dan tidak hapal sama sekali nama-nama grup yang sedang naik daun, tapi White: The Melody of the Curse yang mengusung horor di panggung K-Pop ini ternyata lumayan bikin ketagihan. Film ini mungkin sudah tak asing dari segi tema (hantu perempuan berambut panjang, arwah yang teraniaya semasa hidupnya, muncul dalam berbagai bentuk penampakan; you know the drill). Walaupun saya suka film horor, tapi saya jarang sekali ketagihan, dalam artian rela menonton satu film sampai berkali-kali, apalagi film horor hantu-hantuan yang sekali lihat saja daya tariknya biasanya sudah hilang. Akan tetapi, sedikit film horor yang membuat saya ketagihan semuanya memiliki unsur mirip: karakternya menarik, visualnya tidak bikin sakit mata, soundtrack-nya dipilih dengan seksama, dan jalan ceritanya diperhatikan dengan baik. White adalah film semacam itu. 


White dibuka dengan acara kompetisi musik antara dua grup: Pure dan Pink Dolls. Setelah sambutan meriah untuk Pure, kita langsung melihat keempat karakter utama dalam grup Pink Dolls: Eun-Ju, Shin-Ji, A-Rang, dan Je-Ni. Sambutan yang adem ayem terhadap penampilan grup ini memberi petunjuk bahwa Pink Dolls sedang mengalami penurunan popularitas. Eun-Ju, anggota tertua di grup tersebut yang juga mantan penari latar, sering kali diejek dan diremehkan oleh ketiga anggota lainnya. Untuk meningkatkan popularitas mereka, manajer grup ini akhirnya membawa mereka pindah ke sebuah studio mewah, yang katanya murah karena dulu pernah kebakaran.

Di studio tersebut, Eun-Ju menemukan kaset video lama, berisi rekaman video klip lagu berjudul White yang tidak dirilis untuk publik. Karena tak ada yang mengklaimnya, manajer mereka memutuskan untuk merombak lagu tersebut dan menggunakannya sebagai lagu pamungkas untuk comeback-nya grup Pink Dolls. Grup tersebut pun meraih kesuksesan dengan cepat, namun tanpa mereka ketahui, lagu itu menyimpan kisah tragis terkait kebakaran besar di studio, bunuh dirinya seorang penari latar, dan kematian tragis penyanyi utama dalam grup yang pertama kali membawakan lagu tersebut. Setelah berbagai peristiwa aneh dan kecelakaan menimpa para anggota grup Pink Dolls, Eun-Ju pun harus berjibaku menguak misteri di balik kutukan lagu tersebut, sebelum terlambat.

Seperti yang sudah saya bilang, penampakan hantu-hantuan dalam film ini tergolong biasa. Akan tetapi, yang menarik adalah temanya serta cara kisah ini dibawakan. White membenturkan dunia pertunjukan dan musik yang glamor dengan horor supernatural, sesuatu yang nampaknya susah bercampur. Susah untuk merasakan kesan horor saat melihat penyanyi cantik dan glamor beraksi di atas panggung yang terang-benderang, riuh dan berwarna-warni, tapi film ini berhasil menampilkannya dengan baik saat klimaksnya. Visual dan audio film ini juga nyaman untuk mata dan telinga, dan setiap adegan seolah berada dalam bingkai yang enak dilihat.

White juga adalah film horor pertama yang mengajak saya menonton film hantu-hantuan sambil goyang-goyang kaki. Karena film ini mengangkat tema dunia pertunjukan, maka tentu saja musik dan dansa ala grup K-Pop menjadi bagian tak terpisahkan. Setiap musik dan dansa yang disertakan bukan berstatus "tambahan" untuk film ini, tapi benar-benar menjadi bagian darinya. Apalagi yang berperan dalam film ini ada juga yang penyanyi. Misalnya, Eun-Ju diperankan oleh Hahm Eun-Jung alias Elsie, dan Shin-Ji diperankan oleh May Doni Kim. Grup saingan Pink Dolls, Pure, aslinya dimainkan oleh grup After School (oh ya, ini hasil nyontek saya di mbah Google).

Film ini juga memperlihatkan sisi-sisi tak terlihat dari industri K-Pop yang mendunia. Di balik gemerlap dan warna-warni video klip, kostum panggng serta koreografi dansa dan nyanyian, ada persaingan ketat serta rasa takut akan memudarnya popularitas, terutama di industri pop dimana penikmatnya bisa dengan mudah membuat suatu grup tenggelam dan tak terlihat lagi jika mereka sudah bosan, dan bahkan kerja keras serta dedikasi pada akhirnya menjadi tidak berguna jika ini sudah terjadi. Hal ini nampak pada interaksi antar anggota Pink Dolls yang bersaing untuk mendapat tempat "di tengah" (dimana yang di tengah ini akan menjadi anggota paling menonjol dengan wig berwarna putih). Persaingan ini bahkan membuat Eun-Ju, yang tadinya terlihat paling dewasa dan penyabar, perlahan menjadi ambisius dan bahkan kasar pada ketiga anggota grupnya. Bahkan sang manajer pun digambarkan tak segan-segan melakukan berbagai cara untuk mendorong kesuksesan grup ini, seperti menasihati Eun-Ju agar tak perlu segan menanggapi "tawaran" dari pria berpengaruh, atau justru menampar Shin-Ji ketika dia mengeluh demam panggung.

White juga menunjukkan jalan yang akan dilakukan para penyanyi muda ini demi sukses, serta konsekuensinya ketika persaingan mengubah diri mereka. A-Rang digambarkan ketagihan prosedur kecantikan, dan menjadi paranoid ketika salah satu produk kecantikannya menimbulkan reaksi iritasi pada matanya. Shin-Ji menjadi gadis yang sinis dan pahit karena "7 tahun dia berusaha keras, dan dalam sekejap, dikalahkan para pendatang baru." Je-Ni stres karena walaupun statusnya adalah vokalis utama di grup, dia menyimpan rahasia: dia selalu dibantu oleh voice double di belakang panggung, karena dia tidak bisa mengeluarkan suara tinggi. Eun-Ju juga pernah disindir oleh anggota grup lain bahwa usianya membuat rentang usia rata-rata grup mereka jadi bertambah. Eun-Ju mungkin muda dan cantik, tapi dalam industri K-Pop, dia digolongkan sebagai sudah mulai menua. Saat membolak-balik daftar lagu di bar karaoke bersama sahabatnya, Eun-Ju pun berkomentar bahwa semua penyanyi di buku tersebut pasti dulunya pernah terkenal, tapi kini hanya berakhir sebagai pilihan di tempat karaoke. Konflik dari dunia hiburan ini jarang saya saksikan dalam film horor Korea. Terus terang saja, konflik ini justru jauh lebih memikat saya sepanjang film daripada hantunya sendiri.

White mungkin bukan tipe film horor Korea spektakuler yang mendapat penghargaan di berbagai festival seperti A Tale of Two Sisters, seri Whispering Corridors atau I Saw the Devil, tapi kita kadang tak perlu melongok film pemenang penghargaan untuk menemukan sesuatu yang enak dinikmati. White adalah film yang digarap dengan baik, lengkap dengan cerita, karakter, visual dan musik yang menyenangkan untuk ditonton berkali-kali.