Selasa, 18 April 2017

Happy Together


Tahun rilis: 1997
Sutradara: Wong Kar-wai
Bintang: Leslie Cheung, Tony Leung Chiu-wai, Chang Chen
My rate: 4/5

Tidak ada yang membahagiakan sama sekali dari film ini, terlepas dari judulnya. Kisah yang diurai Wong Kar-wai dalam Happy Together justru semakin menonjolkan ironi dari judulnya, ketika sepasang kekasih berusaha menggapai kebahagiaan sempurna tetapi dengan cara-cara yang justru membuat mereka semakin tenggelam dalam lingkaran konflik dan penganiayaan emosional. Digarap dengan gabungan visual hitam-putih dan warna, serta pergerakan kamera yang mencerminkan gejolak emosi para karakternya, Happy Together menampilkan realita cinta yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi, seberapapun kerasnya pasangan tersebut berusaha.

Happy Together diawali dengan perjalanan dua sejoli bernama Po-wing (Leslie Cheung) dan Lai Yiu-fai (Tony Leung) ke Argentina, dengan tujuan untuk memperbaiki hubungan mereka yang sedang naik turun tak karuan. Tujuan mereka adalah sebuah air terjun raksasa bernama Iguazu, yang mereka percayai berada di ujung dunia dan kemisteriusannya sama-sama menarik mereka. Walaupun resminya perjalanan ini mereka lakukan untuk memperbaiki hubungan, tetapi sepanjang jalan, mereka justru sering bertengkar, dan akhirnya putus (sesuatu yang rupanya sudah terjadi berulang kali).

Kehabisan uang, Lai memutuskan untuk bekerja di sebuah bar tango di Buenos Aires. Po, di sisi lain, justru memanas-manasi Lai dengan mengencani banyak pria lokal, bahkan sering sengaja mengajak mereka ke bar tempat Lai bekerja. Suatu hari, Po kembali ke apartemen Lai dengan kondisi babak-belur, dan Po yang kasihan mengajaknya masuk. Keduanya pun melanjutkan hubungan mereka, dengan Lai yang merawat Po secara telaten. Akan tetapi, siklus pertengkaran keduanya pun dimulai lagi, walau Lai selalu berusaha menjadi pihak yang lebih stabil dan logis. Lai pun semakin bimbang ketika kehadiran Chang (Chang Chen), seorang pemuda pekerja restoran asal Taiwan yang berpikiran jauh lebih dewasa dari Po, perlahan mengisi kekosongan dalam hatinya.

Happy Together bukan film yang nyaman ditonton, dan maksud saya bukan karena jelek. Terlepas dari judulnya, film ini tidak menceritakan tentang pasangan yang berusaha memperbaiki hubungan penuh gejolak dan berakhir bahagia. Ini adalah kisah tentang upaya sepasang kekasih menyelamatkan suatu hubungan yang sejatinya sudah tidak bisa diselamatkan lagi, sehingga berujung pada lingkaran destruktif yang justru menjebak. Film ini sangat bergejolak bahkan sejak awal: adegan seks yang intens menjadi pembuka untuk serangkaian pertengkaran dan perdebatan ketika pasangan ini berupaya mencapai Air Terjun Igauzu. Setiap kejadian kecil bisa menjadi pemicu untuk pertengkaran baru, dan kita benar-benar tidak diberi kesempatan "beristirahat."

Secara visual, film ini juga sangat bergejolak. Wong Kar-wai menggunakan berbagai teknik penyorotan kamera serta skema warna untuk menggambarkan berbagai atmosfer serta gejolak emosi berbeda. Kolaborasi apik sinematografer Christopher Doyle dan editor William Cheung menghadirkan ekspresi emosional lewat sinematografi kreatif. Misalnya, sorotan kamera yang bergejolak dan seolah tersusun dari fragmen yang terputus-putus ketika Po dan Lai bertengkar hebat, efek slow-motion untuk menggambarkan koneksi emosional singkat di antara adegan-adegan intens (misalnya saat Lai dan Po saling bertatapan), atau sorotan panjang yang berfokus ke Lai ketika dia menangis mendengar rekaman tape yang ditinggalkan Chang.

Film ini juga menarik dari segi kisah yang diceritakan. Bukannya mengurai cerita populer tentang kisah cinta bergejolak yang menemukan akhir membahagiakan, Wong Kar-wai justru menunjukkan apa yang terjadi ketika dua sejoli mencoba menyambung kembali hubungan cinta mereka, namun dengan cara-cara yang justru mengundang perilaku menghancurkan diri sendiri. Lai adalah yang paling logis dan berkepala dingin di antara mereka, namun bahkan orang seperti dia tidak bisa lepas dari jeratan lingkaran setan itu. Lingkaran setan semacam ini mencerminkan kondisi nyata yang dialami banyak orang di seluruh dunia tanpa pandang bulu, sesuatu yang mungkin membuat kita tidak nyaman ketika memikirkannya, terutama ketika kita berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa kita adalah orang yang bisa menjadi kuat ketika mengalami situasi seperti ini.

Saya jadi ingat ketika menonton streaming sebuah film bertema kekerasan dalam rumah tangga, di mana ada seorang komentator berujar: "aku tidak akan pernah menjadi wanita lemah seperti itu." Dan saya hanya bisa berkomentar dalam hati: "banyak orang yang bertekad tidak akan menjadi seperti itu ternyata bisa saja terjerumus, terutama kalau semua sudah menyangkut masalah hati." Lingkaran destruktif ini tidak digambarkan secara hiperbolis atau fantastis, tetapi realistis, lengkap dengan pertengkaran-pertengkaran buruk yang sama sekali tidak difilter.

Menonton film ini untuk pertama kali mungkin akan menjadi pengalaman yang tidak terlalu nyaman, dan itu bukan hanya karena berbagai pertengkaran riuh yang sepertinya selalu hadir di tengah-tengah Lai dan Po. Wong Kar-wai tidak hanya memanfaatkan pergerakan kamera untuk merefleksikan emosi karakternya, melainkan juga variasi antara visual hitam-putih dan warna, narasi yang cenderung melompat-lompat dalam penceritaannya, serta editing yang cepat dan bisa cukup membingungkan jika Anda punya kebiasaan menekan tombol Skip atau Fast Forward saat menonton. Akan tetapi, ada sesuatu yang menarik saya untuk menontonnya lagi dan lagi. Happy Together bukan sekadar film yang bisa secara eksklusif disebut "film gay", melainkan eksplorasi jujur terhadap upaya mempertahankan cinta yang sejatinya sudah tidak bisa dipertahankan lagi, dan justru mengarah ke lingkaran destruktif yang hanya akan berakhir pada pilihan paling ekstrem.