Selasa, 02 Mei 2017

Tale of Tales


Tahun rilis: 2015
Sutradara: Matteo Garrone
Bintang: Salma Hayek, Vincent Cassel, Toby Jones, John. C. Reilly, Shirley Henderson
My rate: 3.5/5

Bicara soal dongeng dan cerita rakyat, saya selalu langsung merujuk ke cerita-cerita rakyat yang sama sekali tidak diberi "perlakuan ala Disney" alias dipermanis. Karena dongeng kuno dan cerita-cerita rakyat biasanya dibuat dan disebarkan sebagai pelajaran moral, mereka kerap mengandung adegan-adegan muram atau sadis, yang seandainya dijadikan film atau acara TV, mungkin akan diberi rating Dewasa (dan mengundang kemarahan orang dewasa yang salah mengira itu sesuatu untuk semua umur, lantas mengajak anak mereka yang masih kecil untuk menontonnya). Tale of Tales adalah tiga buah kisah dongeng yang mempertahankan kesan gelap dan muram di dalam penggambarannya, namun berpadu apik dengan unsur-unsur fantasi yang kental.

Tale of Tales berisi tiga buah cerita, yang walau tidak saling berkaitan, tetapi para karakternya digambarkan berlintasan jalan. Cerita pertama, The Queen, mengisahkan tentang raja dan ratu Kerajaan Longtrellis yang menginginkan anak, namun tak kunjung mendapatkannya. Sang raja pun pergi membunuh seekor monster air untuk mendapatkan jantungnya sebagai obat kesuburan. Ketika sang ratu memakannya, dia memang bisa hamil, namun si pelayan wanita yang memasak jantung monster itu juga hamil karena mendapat sedikit bagian dari jantung si monster. Kedua anak lelaki yang mereka lahirkan tumbuh menjadi sahabat, namun sang ratu tidak menyukai kedekatan anak lelakinya dengan anak lelaki si pelayan, dan membuat rencana untuk memisahkan mereka.

Cerita kedua, The Flea, berkisah tentang seorang raja yang memiliki seorang putri, Violet, serta hewan peliharaan berupa kutu besar, yang mendapat lebih banyak perhatian daripada sang putri. Ketika si kutu mati, sang raja sangat sedih dan memutuskan mengulitinya, lantas menjadikannya obyek sayembara dengan Violet sebagai hadiahnya. Sesosok monster berhasil memenangkan sayembara, dan membawa sang putri ke guanya secara paksa. Violet menghabiskan hari-hari dengan sedih dan ketakutan, sampai sebuah keluarga pemain akrobat menolongnya, namun meloloskan diri dari si monster ternyata bukan perkara mudah.

Cerita ketiga, The Two Old Women, berkisah tentang seorang wanita tua yang mencintai seorang raja yang angkuh, dan menarik perhatiannya dengan suara nyanyian yang indah. Tetapi ketika sang raja menyadari dia adalah wanita tua, sang raja melemparnya dari jendela. Seorang penyihir membantu wanita itu menjadi muda dan cantik kembali, namun saudara perempuan wanita tua itu merasa iri dan mulai mencari tahu rahasia apa yang membuat saudaranya menjadi muda kembali.

Menonton Tale of Tales terasa seperti membaca buku dongeng: jangan menggunakan logika dunia nyata untuk memahami setiap ceritanya. Jika Anda terbiasa menuntut bahwa setiap adegan harus memiliki logika tertentu, bahkan dalam cerita fiksi, film ini akan membuat Anda menderita. Walau setiap cerita memiliki alur narasi yang jelas, Tale of Tales menyuguhkan nuansa yang lebih mirip teater atau malah lukisan bergerak. Sutradara Matteo Garrone bahkan mengaku bahwa visual dalam film ini terinspirasi dari sederet ilustrasi satiris Fransisco Goya yang bertajuk Los Caprichos. Banyak adegan yang jelas-jelas terlihat disorot dalam sebuah studio, namun elemen artifisial ini justru menyuguhkan kesan teatrikal yang semakin menonjol.

Tale of Tales juga tidak terasa seperti dongeng-dongeng yang digarap oleh Disney. Kisah-kisah yang ada di film ini disampaikan secara membumi namun fantastis, realistis namun berwarna-warni, suram sekaligus hidup di saat yang bersamaan. Bukannya menciptakan pengalaman menonton untuk semua umur, Garrone berpegang pada aturan lama dongeng dan cerita rakyat: mereka adalah kisah-kisah tentang moralitas, jadi jangan ragu menunjukkan keburukannya. Apalagi, kisah-kisah dalam film ini diadaptasi dari Il Pentamerone, buku kumpulan dongeng dari abad ke-17 karya penyair dan pujangga Italia, Giambattista Basile. Berbagai cerita dalam buku ini juga banyak diadaptasi oleh penulis dongeng seperti Grimm Bersaudara dan Charles Perrault, misalnya kisah-kisah seperti Rapunzel, Hansel dan Gretel, serta Kucing Bersepatu Bot.

Layaknya berbagai kisah dongeng dan cerita rakyat yang menunjukkan tema tertentu sebagai moralitasnya, film ini juga menunjukkan benang merah yang sama di setiap cerita, yaitu "hasrat". Setiap karakter utama dalam tiap cerita menunjukkan hasrat yang hanya bisa dipuaskan oleh tindakan kejam, namun hal itu pada akhirnya berbalik kembali ke diri mereka sendiri. Akan tetapi, saran saya, tidak perlu memaksakan diri menggali pesan moral atau mencoba mengurai setiap logika di dalamnya. Nikmati saja film ini seperti menikmati sebuah buku dongeng berwarna-warni: tidak perlu dibedah, cukup "terjunkan" diri ke dalamnya, dan biarkan diri Anda terhanyut.