Jumat, 02 September 2016

Big Eden


Tahun rilis: 2001
Sutradara: Thomas Bezucha
Bintang: Arye Gross, Eric Schweig, Tim DeKay, Louise Fletcher, Joseph Conlan
My rate: 3.5/5

Ada kalanya saya ingin menonton kisah cinta yang "realistis," dengan problematika nyata dan wujud romantisme yang tidak terpoles ala karakter sinetron yang tidur pun pakai make-up. Ada kalanya pula saya ingin menonton sesuatu seperti Big Eden, drama romantis independen yang serba hangat dan manis tentang hubungan keluarga dan cinta segitiga antar para karakter gay. Inilah salah satu film pemanis otak pilihan saya jika sedang ingin rehat sejenak dari film-film LGBT realistis dimana "realistis" kerap bermakna "tragis," seperti The Bubble, Milk, Normal Heart, Torch Song Trilogy, Soldier's Girl, Go West, Monster, atau Boys Don't Cry. Untungnya, plot yang ala film Disney dan kisah cinta yang terasa agak utopis tidak mengganggu saya menikmati Big Eden, karena Thomas Bezucha tahu bagaimana membuat saya tetap bertahan menonton dari awal sampai akhir.

Big Eden berkisah tentang Henry Hart (Arye Gross), seorang seniman sukses di New York yang mendadak harus pulang kampung setelah kakeknya ambruk karena stroke. Kampung halaman Henry, Big Eden, adalah sebuah kota kecil di Montana di mana semua penduduknya saling kenal, namun Henry sendiri agak merasa asing di sana karena sudah lama tidak kembali, dan sudah terlalu lama menikmati gaya hidup kota besar. Ketika berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan kota kecil (termasuk terpaksa mencari jasa orang yang bisa memasak makanan sehat untuk dirinya dan kakeknya), Henry tanpa disangka bertemu lagi dengan Dean (Tim DeKay), teman sekolahnya yang pernah ditaksirnya, yang ternyata sudah menikah serta punya dua anak.

Ketika mengetahui bahwa Dean ternyata sudah bercerai, Henry kembali menaruh harapan untuk menjalin hubungan romantis, walaupun Dean nampaknya tidak yakin akan seksualitasnya sendiri. Di sisi lain, Henry juga diam-diam dicintai oleh Pike Dexter (Eric Schweig), seorang pemilik toko keturunan Indian Amerika, yang penyendiri dan sangat pemalu.

Big Eden adalah film yang mengalir dengan enak dan memiliki jalinan cerita sederhana tapi sukses memikat saya. Film ini punya semua formula yang dimiliki drama romantis populer: protagonis yang disukai, cinta segitiga, serta para karakter di sekitar protagonis yang dihadirkan sebagai pendukung dan penyemangat (dan terkadang sumber lawakan) untuk meramaikan kisah cintanya. Tragedi dihadirkan sebagai katalis untuk menyukseskan kisah cinta si protagonis, sehingga walaupun menyedihkan, filmnya akan tetap berujung pada kebahagiaan si protagonis dan one true pairing-nya. Oh, dan jangan lupakan adegan klasik berlari ke bandara dan menembus keamanan hanya untuk pengakuan cinta, tindakan yang di dunia nyata akan membuat Anda ditembak atau disundut taser dan dituduh teroris. Justru plot standar seperti itu yang membuat penggarapan drama semacam ini rawan berujung pada film yang datar dan membosankan. Untungnya, itu tak terjadi pada film ini.

Kisah cinta yang manis dalam Big Eden tetap terasa membumi, dengan karakter yang benar-benar "terlihat seperti orang kebanyakan," di kota kecil yang kedekatan penduduknya sangat khas dan bisa dirasakan siapa saja yang pernah tinggal di kota semacam ini. Dialog-dialog mengalir secara alami, dan ada sedikit bumbu komedi serta kisah keluarga sebagai pelengkap. Tidak ada adegan yang kelewat dramatis atau datar; Bezucha pandai mengatur porsi pas untuk rasa setiap adegan dari awal sampai akhir, walau endingnya mungkin terasa sedikit terlalu mendadak dan "mudah," sehingga terasa seolah Bezucha ingin lekas mengakhiri film sebelum sesuatu yang buruk terjadi.

Satu hal yang menonjol sekaligus membuat saya senang adalah kehadiran Eric Schweig sebagai Pike Dexter, yang aslinya merupakan aktor keturunan Inuit-Ojibwe. Aktor dan aktris pribumi Amerika kerap tak mendapat porsi luas dalam film-film mainstream, dan kalaupun main film, mereka biasanya direkrut sebagai tokoh dimana ke-"Indian"-an dirinya menjadi karakteristik utama yang menonjol (sementara karakter "Indian" malah banyak yang diberikan ke aktor dan aktris kulit putih). Jadi, saya senang melihat Schweig berperan sebagai Pike di sini, dimana dia menjadi tokoh yang penting karena karakteristik perannya, bukan latar belakang etnisnya, apalagi di film bertema LGBT yang cenderung sangat jarang memajang aktor pribumi (kecuali mungkin The Business of Fancy Dancing). Saya suka sekali karakter Pike yang tinggi besar tapi pemalu, terutama ketika dia diam-diam memutuskan belajar memasak untuk membantu Henry dan kakeknya, tapi meminta pada teman-temannya supaya itu dirahasiakan dari Henry. Who doesn't like a shy, gentle giant?

Lepas dari semua itu, saya tetap harus menonton film ini dengan kacamata kuda untuk melupakan hal-hal tertentu. Misalnya, Big Eden adalah sebuah kota kecil di Montana yang cukup tradisional, dan kota kecil semacam itu biasanya cenderung konservatif, apalagi dengan penduduk yang alim dan pria-pria bertipe koboinya. Jadi, agak aneh melihat penduduk kota seperti itu justru bahu-membahu mencomblangi Henry dengan Pike, dan tidak merasa aneh melihat dua pria berdansa lekat di pentas musik acara perayaan 4 Juli; tidak ada komentar menjurus homofobik keluar dari karakter manapun, bahkan sebagai candaan. Tidak ada adegan seks juga. Makanya kenapa saya bilang film ini terasa agak utopis.

Tapi, hei, kadang saya hanya ingin selingan dari kisah-kisah dengan realita menohok, dan memberi sedikit taburan gula untuk menetralkan kepahitan hidup yang disodorkan film-film semacam itu. Big Eden sebaiknya tidak ditonton sebagai drama LGBT realistis, tetapi seperti layaknya film-film romantis konvensional populer, yang mungkin manis, mengawang dan utopis tetapi toh memikat dari awal sampai akhir.